Jumat, 22 November 2013

CERPEN: Rumah di Atas Pohon

Rumah di Atas Pohon
 (oleh Benny Rhamdani)
 
     Perjalanan dari Bandung ke Ciwidey memang tidak seberapa jauh. Tetapi, di dalam mobil aku terus gelisah, ingin segera tiba di rumah Om Dwi. Aku ingin tahu kejutan apa yang telah disiapkan Ami, sepupuku. Dalam suratnya dia mengatakan punya kejutan untukku.
      "Cihuy, akhirnya sampai juga!" teriakku tidak dapat menahan kegembiraanku. Langsung saja aku keluar dari dalam mobil.
     "Neng Sari, Pak Min langsung pulang ke Bandung ya!" seru sopir Papa yang mengantarku.
     "lya, Pak Min. Jangan lupa besok sore jemput Sari!" pesanku.
     Pak Min mengangguk. Tidak lama kemudian mobil pun meninggalkan aku sendirian. Aku segera membalikkan badanku, bersamaan dengan itu Arni berjalan dari pintu rumah menghampiriku.
     "Kupikir kamu tidak jadi datang," tuding Arni begitu mendekat.
rumahpohon1     "Ah, mana pernah aku menolak ajakanmu untuk berakhir pekan di sini," elakku."Oh iya, Om dan Tante sudah berangkat ke Jakarta?"
     "Sudah tadi siang sepulang aku dari sekolah. Makanya aku begitu menantikanmu. Eh,tidak tahunya baru muncul sore hari begini."
     "Sudahlah,yang penting aku kan datang. Nah, sekarang tunjukkan kejutan yang kamu sebut-sebut di suratmu," pintaku tak sabar.
     "lya deh," timpal Arni. Ia menarik lenganku agar aku mengikuti langkahnya. Ia mengajakku ke kebun yang luas di belakang rumah. Sekilas kupandangi sekeliling kebun, tidak ada sesuatu yang aneh. "Lihat ke atas pohon itu!" tunjuk Arni ke arah  sebuah pohon besar di sisi kanan kebun.
     "Wah bagus sekali!" pekikku takjub ketika melihat sebuah rumah papan mungil berdiri di atas pohon itu.
     "Hei,Kak Sari jadi datang juga rupanya?!" Tiba-tiba menyembul sosok kepala anak lelaki dari rumah itu.
     "Aduh,Agus! Sudah kubilang ja ngan ke situ. Awas kalau kau mengacak-acak barang disitu!" teriak Arni sewot.
     "Tidak!Aku tidak mengusiknya kok!" kilah Agus. "Kak Sari, ayo naik!"
     Tanpa diperintah dua kali, aku bergerak menuju pohon itu. Lewat tangga tali yang terjulur aku dapat mencapai rumah yang letaknya memang tidak begitu tinggi dari atas tanah. Arni mengikutiku melakukan hal serupa.
     Aku semakin kagum ketika melihat dalam rumah itu. Ruangnya memang tidak seberapa besar. Untuk masuk ke dalam aku harus menundukkan kepala.
     Tetapi,kenyamanan amat kurasakan saat berada di sini. Hm, kalau saja di rumahku ada pohon sebesar ini, aku akan minta dibuatkan rumah serupa ini.
     "Sejak kapan rumah ini berdiri?" tanyaku sambil meraih majalah yang ditumpuk disudut.
     "Sudah seminggu.Hampir setiap hari aku menghabiskan waktuku di sini. Sesekali aku mengundang teman-temanku kemari," jawab Arni.
     "Aku juga!" timpal Agus tanpa diminta. "Kita giliran!"
     "Ya,dan hari ini mestinya giliranku. Kamu tidak boleh kemari," tambah Arni ketus.
     "Sudahlah,kita nikmati bersama saja sore ini di sini," aku berusaha menengahi.
     Sampai menjelang malam kami terus berada di rumah pohon itu. Kalau saja Mak Isah,pembantu rumah Arni, tidak memaksa pulang, mungkin kami akan tetap di sana.
     Selesai membersihkan badan, kami langsung menyantap makan malam yang dibuat Mak Isah.Salah satu yang membuatku betah tinggal di rumah Om Dwi adalah masakan Mak Isah yang lezat. Rupanya Mak Isah juga sudah menyiapkan makanan lain selepas kami makan malam. Apalagi kalau bukan bajigur, ubi rebus, dan singkong rebus. Hmmm ...pokoknya menyenangkan!
     "Wah, pesta bajigur lagi nih!" seru Agus sambil menyeduh gelas berisi bajigur. Tetapi, kemudian mulutnya komat-kamit karena rupanya bajigur itu masih terlalu panas.
     Makanya jangan terlalu nafsu minumnya," timpalku.
     Aguscuma tertawa. Aku melirik ke arah Arni. Sejak tadi ia tidak begitu banyakbicara, seperti memendam sesuatu di hatinya. "Arni, dari tadi kok diamsaja. Bajigurnya nanti kabur!" tegurku menyelidik.
     Arni kelihatannya ragu untuk menjawab. "Begini... Em, aku punya usul. Bagaimanakalau malam ini kita menginap di rumah pohon itu, Sar," jawab Arni mengejutkanku.
     "Tapi di luar dingin dan gelap," ujarku.
     "lya, kayaknya mau hujan," sela Agus.
     "Diam!Aku kan tidak mengajak kamu!" rutuk Arni sewot. "Sar, kita kan bisa bawa selimut dan pakai jaket. Terus biar terang, pakai lampu neon batere milikAyah. Aku rasa itu cukup."
     Aku mengangguk. "Kalau begitu sekarang tinggal minta izin sama Mak Isah,"kataku kemudian.
     Kebetulan sekali Mak Isah masuk ke ruang tengah. Arni langsung saja menyampaikan niatnya."Mak, Arni dan Sari malam ini akan tidur di rumah pohon itu," ucapAmi.
     Kulihat Mak Isah terkejut. "Jangan, Neng. Banyak bahayanya tidur di sana malam-malam begini," cegah Mak Isah kuatir.
     "Bahaya apa, Mak? Kami akan membawa selimut, jaket, dan lampu neon batere milikAyah."
     "lya, tapi tetap saja berbahaya. Bagaimana kalau nanti tahu-tahu hujan lebat dan ada binatang berbisa," Mak Isah memberi alasan.
     Aku merinding mendengar ucapan Mak Isah. "Sudahlah, Ar, kalau memang tidak boleh, ya tidak usah," aku ikut berkata.
     "Dari pada nanti disengat kalajengking atau dipatuk ular!" tambah Agus.
     Arni kelihatan kecewa dengan larangan Mak Isah. Aku menepuk bahunya. "Sebagai gantinya bagaimana kalau kita pinta Mak Isah agar mendongeng sebanyak mungkin,"hiburku.
     "Aku setuju," seru Agus lantang.
     Untungnya Mak Isah juga siap. Akhirnya kami berkumpul di kamar sambil mendengar Mak Isah mendongeng. Tiap Mak Isah menyelesaikan dongengnya, Agus meminta dongeng lainnya.Sampai tujuh dongeng akhirnya kami mengantuk juga. Segera kami pergi tidur.Sayup-sayup sebelum tidur, aku mendengar suara rintik hujan di luar rumah.
     Aku terbangun esok paginya karena bahuku diguncang-guncang oleh Agus. "Bangun cepat!Ada kabar buruk..." teriak Agus membuatku terjaga.
     Arni juga ikut-ikutan terbangun. Agus memintaku agar segera mengikuti ajakannya. Masih setengah mengantuk, aku dan Ami mengikuti Agus menuju ke kebun.
     "Lihat pohon kita!" tunjuk Agus ke pohon besar itu.
     Aku nyaris tidak percaya melihat apa yang terjadi dengan pohon itu. Ada bagian batang pohon yang rubuh, menimpa rumah pohon itu hingga rusak.
     "Semalam kata Mak Isah hujan lebat disertai angin kencang," tutur Agus.
     Aku menggigit bibirku. Untung semalam aku menuruti larangan Mak Isah   
     "Larangan Mak Isah ternyata beralasan. Kalau saja semalam aku tidak menuruti kata-katanya ..."gumam Ami berbisik.
     Aku segera mengajak Arni dan Agus kembali ke rumah. Kupikir kami harus mengucapkan terima kasih atas larangan Mak Isah semalam.***

Sumber: Majalah Bobo
Please Like this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...